Arti Sahabat atau Sahabat Berarti ?

aW1hZ2VzL3Nma19waG90b3Mvc2ZrX3Bob3Rvc18xMzQzMzY4NDA5X0ZRZXBoZFpkLmpwZw==Dalam hidup ini, sahabat termasuk bagian terpenting. Sahabat adalah orang yang paling dekat dengan kita. Orang yang tahu keluh-kesah kita. Orang yang tahu senyam-senyum kita. Sahabat juga menentukan baik-tidaknya diri kita. Begitu banyak kalam bijak yang mengatakan hal itu. Seperti, “Berteman dengan penjual minyak wangi akan ikut wangi. Berteman dengan tukang pandi besi, akan terkena percikan api.”

Imam Ibnu Atha’illah al-Iskandar juga menulis dalam Syarh al-Hikam-nya, “Jangan pernah bersahabat dengan orang yang tingkahnya tidak memotivasimu dan orang yang perkataannya tidak membimbingmu pada Allah. Sebab, bisa jadi kau orang yang tidak baik, tapi karena berteman dengan orang yang lebih buruk darimu, kau menganggap dirimu orang baik.”

Dalam kata mutiara Imam Ibnu Athai’illah itu, setidaknya ada dua kriteria orang yang boleh kita jadikan sahabat. Pertama, orang yang perilakunya memotivasi kepada kebaikan. Orang yang perilakunya baik pasti memotivasi kita untuk baik. Orang yang semangat pasti membuat kita ikut semangat. Tak heran, jika kita sering menemukan orang hebat karena dulunya berteman dengan orang hebat.

Kedua, perkataannya membimbing pada kebaikan. Kita sudah tahu, lidah adalah ujung dari segalanya. Lidah tidak bertulang sehingga bisa dibuat apa saja. Nah, orang yang patut kita jadikan teman adalah seorang yang perkataannya membuat kita termotivasi unntuk bertindak positif. Sebab, tidak sedikit tindakan yang dimulai dari kata-kata. Bukankah kata itu do’a?

Jika kita bersahabat dengan orang yang tidak memenuhi dua kriteria tersebut, ditakuti kita akan mendapatkan dampak negatifnya. Seperti ikut-ikutan gaya hidup mereka. Sebab, seorang sahabat pasti terpengaruhi oleh sahabatnya. Betapa banyak, anak yang menjadi maling karena sahabatnya maling. Betapa banyak orang yang menjadi peminum minuman keras karena sahabatnya minum. Hal ini tidak mengherankan, sebab menurut teori sosiolgi, tak satu orang pun yang tidak mempengaruhi dan tak seorangpun yang tidak dipengaruhi.

 

Kalau kita membaca sejarah, memang banyak ulama salaf yang menjadikan sahabat sebagai ladang inspirasi dan motivasi. Sebut saja Imam Ali Zainal Abidin. Suatu ketika beliau mengatakan, “Jika hatiku terasa letih, aku melihat saudaraku, Muhammad bin Wasi’. Maka aku akan semangat selama satu minggu.”

Bagaimana kalau kata mutiara dari Imam Ibnu Atha’illah itu kita balik? Kita tidak usah susah payah mencari orang baik untuk kita jadikan sahabat, tapi kita berusaha menajdi orang yang baik untuk dijadikan sahabat. Kita boleh bersahabat dengan siapa saja, tapi kita tidak ikut tingkah laku mereka. Malah kita menjadi motivasi bagi mereka pada jalan yang baik. Kita boleh bersahabat dengan yang “merah”, “abu-abu”, dan seterusnya, tapi kita membuat mereka tergerak untuk berubah. Bukankah itu lebih baik?

Memang, bersahabat dengan orang yang baik itu penting, tapi menjadi sahabat yang baik jauh lebih penting. Bersahabat dengan orang yang membuat kita selalu termotivasi itu penting, tapi menjadi orang yang memotivasi orang lain jauh lebih penting. Bukankah tangan yang di atas itu lebih baik dari pada yang di bawah? Bukankah memberi itu lebih baik dari pada meminta?

Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam, bersabada, “Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermenfaat pada manusia.” (HR. al-Baihaqi) Hadis ini mengatakan bahwa menjadi orang bermenfaat itu jauh lebih baik dari pada menerima menfaat. Menjadi orang yang berarti itu lebih baik dari pada orang yang mengharapkan arti.

Namun demikian, hal ini jika kita memang memiliki karakter kuat. Tidak goyah walau terhantam apa saja. Meski berkumpul dengan siapa pun, ktia tetap menjadi diri kita sendiri. Tidak ikut-ikutan perilaku mereka. Bahkan, kita bisa mewarnai perilaku mereka dengan perilaku baik kita. Syukur-syukur, kalau kita bisa mempengaruhi dan memotivasi mereka. Jika tidak bisa, lebih baik kita berteman dengan orang yang baik. Agar kita menjadi orang yang baik.

Maka, jika ingin menjadi orang baik, bersahabatlah dengan orang baik. Orang baik akan mempengaruhi orang lain menjadi baik. Namun, jika bisa, jadilah sahabat yang baik. Bukan sahabat yang hanya mencari orang baik. Jadilah sahabat yang berarti. Bukan sahabat yang hanya mengharapkan ‘arti’. Orang bijak mengatakan, “Apa yang bisa saya berikan kepada sahabat saya, bukan apa yang bisa sahabat berikan kepada saya”.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s