Curhat dalam Munajat

berdoa_web1Hidup ini memang tidak selalu sesuai harapan. Ada saja masalah yang datang. Masalah silih berganti. Tanpa henti. Kadang, yang satu belum selesai, sudah ada masalah baru. Begitulah kehidupan ini. Kehiduapan fana. Kehidupan penuh cobaan. Dalam sejarah, para nabi pun tertimpa masalah dan musibah. Nabi Yusuf dibuang ke dalam sumur. Nabi Yunus ditelan ikan. Nabi Muhammad saw. diusir dari tanah kelahirannya. Begitulah kehidupan di dunia ini.

Untuk menghadapi masalah itu, banyak cara yang kita lakukan. Ada yang memperbanyak dzikir. Intropeksi diri. Menjadikan masalah itu sebagai pelajaran. Ada pula yang menghadapinya dengan minuman keras. Hilang sesaat. Lalu, masalah itu mencengkramnya kembali. Ada pula yang lebih memilih mencurahkan isi hati kepada sesama. Dalam bahasa gaulnya disebut curhat (curahan hati).

Sayangnya, kadang kita tidak pilah-pilih kepada siapa harus curhat. Kita curhat kepada siapa saja. Bahkan, kadang kita curhat di media sosial. Kepada halayak umum. Orang yang bermacam-macam. Orang yang tidak jelas baik tidaknya. Senang membantu atau tidak. Tidak mengherankan jika kemudian tidak memecahkan masalah, tapi menambah rumit masalah. Sebab, orang-orang yang menanggapi curhat kita, tidak semuanya menginginkan masalah kita selesai. Mereka berkomentar sekenanya. Tanpa pikir panjang. Lebih parah lagi, komentar mereka kadang malah menjerumuskan. Menjadika kita tambah mumet.

Oleh karna itu, agar kita mendapatkan solusi yang tepat, kita harus curhat kepada orang yang tepat. Kepada orang yang kita percaya. Orang berpengalaman, memiliki ilmu agama tinggi, mempunyai rasa kasih yang mendalam, serta senang membantu sesama. Jika hal itu yang kita lakukan, kita akan mendapat nasihat terbaik darinya. Masalah kita pun akan terasa ringan. Meski tidak sepenuhunya selesai, sidaknya, kita sudah tahu apa yang harus kita lakukan. Namun, jika kita curhat kepada orang yang salah, kita akan hancur sehancur-hancurnya. Terlebih jika orang yang kita curhati memiliki hati dengki. Bukan jalan keluar yang kita dapat, tapi masalah yang lebih besar yang siap menyantap.

Memang demikian, namun seharusnya kita curhat kepada Sang Pemberi masalah. Dzat yang dapat menghilangkan masalah, Allah swt.. Dzat Maha Perkasa. Dzat Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sebab, biar bagaimanapun, manuisa tetaplah manusia. Memiliki kemampuan terbatas. Memang betul dia memberi arahan dan solusi, tapi belum tentu cocok dengan situasi yang kita hadapi. Beda halnya jika kita curhat kepada Allah swt.. Kita ungkapkan masalah kita kepadanya. Kita memohon agar masalah kita cepat selesai. Musibah yang membebani kita cepat tuntas. Allah akan mendengarkan kita. Allah akan memberikan solusi yang terbaik kepada kita. Sebab, Dia adalah Dzat yang Maha Tahu segalanya. Dzat yang maha mendenar doa hamba-Nya.

Kalau kita lihat sejarah, betapa para nabi begitu pasrah kepada Allah dalam menjalani kepahitan hidup. Lihat saja Nabi Ayyub. Awalnya, beliau orang kaya raya. Memilki hewan peliharann begitu banyak. Ladang untuk cocok tanam melimpah. Beliau juga memiliki putra banyak yang melengkapi kebahagiaan rumah tangga. Namun, semua yang beliau miliki hilang tak tersisa. Beliau juga terkena penyakit menjijikan. Tubuh beliau digerogoti ulat. Orang-orang menjauh dari beliau. Hanya salah satu istri saja yang setia menemani. Menghadapi semua itu, Nabi Ayyub tetap sabar. Beliau tidak pernah mengeluh. Beliau tetap istikamah beribadah. Mengingat Allah, Sang Pencipta musibah. Konon, suatu ketika ulat-ulat yang ada di tubuh beliau mau memakan hati dan lisan beliau. Pada waktu itulah, Nabi Ayyub curhat kepada Allah swt.. Menceritakan betapa beliau menderita. Memohon agar jangan sampai ulat itu mengganggu hati dan lisan beliau. Beliau takut tidak bisa berdzikir. Nabi Ayyub curhat dalam munajatnya, ……”(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. (QS. Al-Anbiya’: 83) Lalu, Allah swt. mengabulkan doa Nabi Ayyub. Allah swt. menyembuhkan penyakit beliau.

Adalah Nabi Zakariya yang memiliki cerita senada dengan cerita di atas. Kala itu, beliau menginginkan sekali keturunan. Namun, keinginan beliau itu sulit terjadi. Sebab, istri beliau mandul. Beliaupun bermunajat. Dalam munajat itu beliau memohon agar diberi keturunan. Beliau mengatakan dalam munajatnya, “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik.” (QS. Al-Anbiya’: 83) Allah swt. pun kemudina menerima doanya. Beliau diberi putra yang bernama Yahya. Kelak, putra beliau juga menjadi nabi.

Dengan demikian, jika kita ditimpa masalah, kita harus sabar menghadapinya. Kehidupan dunia memang dipenuhi masalah dan musibah. Kalau memang kita butuh curhat, curhatlah pada orang yang tepat. Orang yang baik. Darinyalah kita akan mendapatkan nasihat. Namun, kita jangan lupa untuk curhat kepada Allah swt.. Bermunajat dengan khusyuk. Memohon kepada-Nya agar semua yang menimpa kita cepat berakhir. Sebab, Allahlah yang memberi kita masalah. Allahlah yang memberi kita cobaan dan musibah. Dan, hanya Allahlah yang bisa memberi jalan keluarnya. Bukankah Nabi Ya’qub hanya curhat kepada Allah swt. ketika tertimpa masalah? “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku….” (QS. Yusuf: 86)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s